Suasana semakin memanas, salah satu pria bernama Bai Xu, seorang kultivator ranah Immortal tingkat menengah, berdiri dengan wajah suram. Kesabarannya telah habis, amarahnya membuncah melihat sikap Ketua Sekte yang terlalu keras kepala.

Demi menjalankan misi mengumpulkan fragmen senjata iblis agar berhasil dan tidak mengalami kegagalan seperti rekan mereka yang lainnya, dia dan seorang rekannya dari sekte Kegelapan telah mengambil langkah nekat. Dengan bantuan para tetua sekte kegelapan, mereka menggunakan teknik terlarang yang menyerupai teknik yang digunakan Shen Mo, yaitu menyerap energi Qi dalam jumlah besar dengan teknik persembahan, ditambah obat spiritual terlarang. Dalam sekejap, kekuatan mereka melonjak ke tingkat Immortal menengah. Meski efeknya tidak bertahan lama dan memiliki resiko yang sangat berbahaya setelah efeknya menghilang, itu sudah cukup untuk memenuhi tujuan mereka. Mereka siap menerima resiko demi sekte mereka.

Sejak misi yang dijalankan rekan mereka di Kota Huoling gagal, dengan banyaknya rekan mereka yang terbunuh dan parahnya lagi sehingga ketua mereka sangat marah adalah fragmen senjata iblis yang sudah mereka incar sekian lama secara berhati-hati, jatuh ke tangan musuh yang tidak mereka ketahui darimana asalnya, sehingga kemarahan ketua mereka tak terbendung.

Ditambah informasi dari rekan mereka yang selamat dari pembantaian, Luo Zhen, grandmaster fana yang gagal dalam menyerang secara langsung walikota Huoling di bantu keluarga Huo. Dia memberikan informasi mengenai kehadiran sosok pemuda yang belum pernah ada sebelumnya, dimana kekuatan pemuda itu diperkirakan sudah di ranah immortal diusia muda, membuat mereka merasa harus lebih bergerak cepat. Banyak pihak yang mulai terlihat bergerak mengumpulkan fragmen tersebut.

Selama beberapa tahun, mereka sudah menyusupkan mata-mata mereka kedalam sekte Api Langit untuk menyelidiki dimana kunci dimensi disembunyikan, namun rahasia tersebut terlalu rapat, tidak banyak yang mengetahui.

Mereka bergerak cepat, mencari petunjuk lain. Mata-mata mereka kemudian melaporkan keberadaan kunci dimensi di sebuah ruang rahasia yang dapat dilalui melalui jalur tersembunyi yang berada di sebuah jurang di gunung Longfeng.

Salah satu rekan mereka telah mengonfirmasi lokasi itu, tetapi mereka terlambat, saat tiba di tempat tersebut, jalur yang disebutkan sudah runtuh sehingga tidak memungkinkan dia untuk masuk.

Kemudian informasi terbaru dari mata-mata yang menyusup ke Sekte Api Langit menyebutkan bahwa kunci tersebut telah dicuri, dan yang paling mengejutkan, pencurinya menggunakan nama Sekte Kegelapan.

"Beraninya mereka menggunakan nama kami!" Bai Xu menggeram. Para anggota Sekte Kegelapan merasa terhina. Mereka tak akan tinggal diam dijadikan kambing hitam. Dalam kemarahan yang meluap, mereka melancarkan serangan langsung ke Sekte Api Langit.

Namun, di luar dugaan mereka, di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang pria tua yang terluka parah. Kultivator itu berada di ranah Immortal dan mereka tidak bisa memastikan tingkatannya karena selain terluka, pria tua tersebut juga memiliki pancaran energi yang tidak stabil.

Pria tua itu tampak membawa Ketua Sekte Api Langit serta seorang wanita yang mereka kenali sebagai Tetua Xie. Tetua Xie dikenal sebagai salah satu tetua paling ditakuti di Sekte Api Langit, seorang wanita yang tak segan membantai musuh-musuhnya dengan tangan dingin.

Setelah kepergian pria tua itu, Bai Xu merasakan firasat yang tidak enak sehingga dia harus bergerak cepat sebelum ada masalah. Tetapi ketua sekte yang ada didepannya justru bersikeras tidak ingin memberi tahu.

Bai Xu melangkah maju, matanya menyipit saat menatap Ketua Sekte Api Langit yang tak berdaya. Suaranya penuh ejekan saat ia berkata, "Dasar keras kepala. Apa gunanya bersikeras menyembunyikan letak kunci itu? Katakan di mana kunci dimensi itu berada, atau aku akan membantai semua murid di tempat ini satu per satu... dimulai dari dia!"

Jarinya terangkat, menunjuk langsung ke arah Tetua Xie. Tanpa ragu, ia mengangkat telapak tangannya, mengumpulkan energi mematikan yang berdenyut ganas. Dalam sekejap, ia mengayunkan serangannya tanpa ampun.

Tetua Xie, yang masih terluka parah akibat serangan Shen Mo, hanya bisa pasrah. Dengan kekuatan yang hanya berada di tingkat Grandmaster Langit, tak mungkin ia bisa menahan serangan dari seorang kultivator di tingkat Immortal.

Namun, sebelum serangan itu menghantamnya—

Bugh!

Sebuah bayangan hitam melesat, menghentikan serangan Bai Xu secepat kilat. Suara ledakan energi terdengar sangat menyeramkan.

Sosok itu berdiri tegap di antara Tetua Xie dan para penyerang, tubuhnya diselimuti pakaian tempur hitam yang ketat, dengan helm yang memancarkan kilauan biru samar. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, tapi aura dingin dan menekan yang ia pancarkan seketika membuat suasana di sekeliling berubah mencekam.

"Siapa kau? Beraninya ikut campur." Bai Xu bertanya dengan suara penuh curiga. Matanya menyipit, meneliti sosok pria berpakaian tempur hitam yang baru saja menghentikan serangannya dengan mudah. Pukulan yang seharusnya bisa membunuh Tetua Xie dalam sekali serang ternyata ditangkis begitu saja—tanpa ada sedikit pun aliran Qi yang terasa.

"Pergilah. Aku tidak ingin melukai kalian," ujar Lynx dengan nada datar, tetapi ancaman tersirat jelas dalam suaranya. Tatapannya tajam, menusuk ke arah rombongan yang berniat melukai Tetua Sekte Api Langit.

"Ternyata dia..." batin Lynx. "Pria ini yang menyerangku dengan senjata di jurang. Lalu, ke mana pria tua yang kulawan tadi? Kenapa aku tidak melihatnya di sini?"

Beberapa saat sebelumnya

Setelah mengobati efek racun dalam tubuh Ling Mei dan menyerapnya sepenuhnya, kondisi Ling Mei telah melewati masa kritis. Namun, jiwanya masih terluka, membuat kesadarannya belum juga kembali.

Di dalam buku pengobatan dan ingatan leluhur Xiao Tan, pasti ada cara untuk menangani hal ini. Aku harus mengingatnya dan membuat obatnya, pikir Lynx sambil memandangi Ling Mei yang terbaring lemah. Ingatannya melayang ke masa lalu, saat mereka berdua menghabiskan waktu bercinta di dunia kecil. Namun, karena situasi mendesak, Lynx bahkan tidak sempat memperhatikan apakah Ling Mei masih perawan atau tidak.

Saat Lynx masih berusaha mengingat metode pemulihan jiwa yang terluka, tiba-tiba ia merasakan fluktuasi energi pertarungan tingkat Immortal. Salah satu energi itu berasal dari pria tua yang sempat ia lawan di jurang.

Tanpa berpikir panjang, Lynx segera memanggil Li Wei untuk menjaga Ling Mei. Begitu Li Wei tiba, Lynx menghilang dalam sekejap dari hadapannya dan muncul kembali di depan Tetua Xie serta Ketua Sekte yang dikenalnya saat di alun-alun. Melihat mereka, Lynx langsung menebak bahwa keduanya memiliki posisi penting dalam Sekte Api Langit.

Kembali ke saat ini

"Bocah ingusan! Hanya Forging Qi tingkat dua, tapi berani bersikap sombong?" salah satu pria di antara rombongan lawan menyeringai sinis. Dia adalah Grandmaster tingkat Fana—orang yang menyerang Lynx di jurang sebelumnya. Kali ini, tanpa ragu, ia mulai mengerahkan Qi miliknya, bersiap untuk membunuh Lynx dalam satu serangan.

Namun, Lynx sama sekali tak mengindahkannya. Sebaliknya, ia menatap Tetua Xie dan Ketua Sekte dengan penuh selidik.

"Apakah kalian juga berasal dari Sekte Api Langit?" tanyanya, suaranya terdengar datar namun penuh tekanan.

"Awas, di belakangmu!" Bukannya menjawab pertanyaan Lynx, Tetua Xie berteriak panik saat melihat serangan kuat melesat menuju Lynx.

Namun, bukannya menghindar, Lynx justru tersenyum tipis. "Tenanglah, dia tidak akan bisa melukaiku."

"Sombong. Orang ini terlalu sombong, bagaimana dia bisa menganggap remeh kekuatan grandmaster seperti ini?" batin Tetua Xie sambil bersiap bergerak untuk membantu pria yang baru saja menolongnya.

Saat serangan itu semakin dekat, Tetua Xie langsung melesat melewati Lynx, berniat menangkis serangan tersebut. Namun, sebelum pukulan mereka sempat beradu, Lynx tiba-tiba sudah muncul kembali di antara mereka.

Dengan sikap santai, Lynx mengayunkan satu pukulan ke arah pria yang menyerangnya.

Braak!

Dalam sekejap, pria itu terlempar jauh, tubuhnya menghantam dinding dengan keras sebelum jatuh ke tanah—tak bernyawa.

"Ini balasan karena kamu langsung menyerangku saat di jurang kemarin." Batinnya.

"Sudah kubilang, dia tidak akan bisa melukaiku," kata Lynx santai, seolah yang baru saja terjadi bukanlah hal yang luar biasa.

